Positif COVID-19, Isolasi Mandiri Berapa Hari?

Pandemi COVID-19 masih melanda hampir seluruh dunia. Bahkan Juli lalu, Indonesia mengalami kenaikan kasus positif yang cukup tinggi yakni melebihi angka 68 ribu kasus dalam satu hari. Berkat kenaikan kasus tersebut, banyak penderita COVID-19 yang terpaksa menjalani isolasi mandiri di rumah. Namun tahukah Anda idealnya isolasi mandiri berapa hari?

Isolasi Mandiri Berapa Hari yang Benar?

Hingga kini, masih banyak yang bingung mengenai waktu isolasi mandiri saat positif COVID-19. Apakah saat gejala pertama muncul atau saat hasil positif atau hasil tes PCR keluar?

Dalam Panduan Sementara Penanganan Klinis COVID-19 yang diterbitkan pada 27 Mei 2020 oleh WHO. Ada kriteria klinis seseorang dapat keluar dari isolasi mandiri setelah menjalani perawatan klinis. Kriteria tersebut berdasarkan tingkat keparahan yang meliputi:

  • Untuk pasien bergejala, harus menjalani isolasi 10 hari setelah gejala muncul. Dan ditambah 3 hari untuk memastikan apakah gejala benar-benar sudah hilang.
  • Sedangkan pada pasien tanpa gejala (OTG), menjalani isolasi mandiri 10 hari setelah hasil tes PCR menyatakan positif SARS-CoV-2.

Namun jika Anda melakukan kontak erat dengan penderita namun hasil test PCR belum keluar atau Anda belum melakukan test, maka Anda wajib melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Dan selama 14 hari tersebut, tetap pantau gejala apapun yang muncul.

Kontak erat adalah jika Anda memiliki riwayat dengan seseorang yang terkonfirmasi positif dengan kriteria seperti berikut ini:

  • Tatap muka dengan pasien positif dalam jarak 1 meter selama lebih dari 15 menit.
  • Melakukan sentuhan fisik dengan pasien positif seperti berjabat tangan.
  • Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus konfirmasi dalam
  • Merawat pasien positif tanpa menggunakan APD yang sesuai dengan standar.

Sedangkan menurut CDC, jika Anda tidak sengaja bertemu dengan pasien positif namun telah di vaksinasi, Anda harus tetap melakukan tes 3-5 hari setelah melakukan kontak erat. Meskipun tidak memiliki gejala, namun Anda harus tetap melakukan isolasi mandiri selama 14 hari atau sampai hasil tes negatif keluar.

Anda harus memerhatikan apapun gejala yang Anda rasakan. Dan jika dalam 14 hari tersebut muncul gejala, Anda harus segera menghubungi puskesmas atau otoritas kesehatan setempat.

Syarat dan Persiapan Melakukan Isolasi Mandiri

Jika sudah tau isolasi mandiri berapa hari, Anda harus mengetahui kriteria melakukan isolasi mandiri Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan, yaitu:

  • Berusia <45 tahun
  • Tidak memiliki komorbid (penyakit bawaan) seperti kanker, diabetes, gagal ginjal atau darah tinggi
  • Termasuk orang tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan
  • Memiliki kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya
  • Memiliki kamar mandi di dalam rumah

Sedangkan menurut Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) COVID-19, orang yang ingin melakukan isolasi mandiri di rumah harus mempersiapkan hal berikut ini:

  • Menyiapkan vitamin C, D dan Zinc atau obat lainnya sesuai anjuran dokter.
  • Mempersiapkan alat kesehatan seperti termometer dan oxymeter guna memantau suhu dan kadar oksigen dalam darah.
  • Menyiapkan stock masker yang cukup selama isolasi mandiri dan disinfektan.
  • Menyiapkan kontak darurat baik itu orang terdekat ataupun rumah sakit.

Hal-hal yang Harus Dilakukan Saat Isolasi Mandiri

Saat melakukan isolasi mandiri, Anda harus melakukan beberapa hal guna meningkatkan imun tubuh dan mencegah anggota keluarga lainnya tertular yaitu:

  • Berolahraga 3 sampai 5 kali dalam seminggu.
  • Berjemur setiap pagi.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seperti sayuran, buah atau ikan.
  • Rajin mencuci tangan terutama setiap kali ingin makan.
  • Terus menggunakan masker, meskipun saat seorang diri di dalam kamar.
  • Memisahkan tempat makan dari anggota keluarga lainnya, dan usahakan untuk membawa peralatan makan ke dalam kamar.
  • Melakukan disinfeksi secara rutin pada benda atau peralatan yang Anda pegang seperti gagang pintu atau toilet.
  • Usahakan untuk menempati kamar yang memiliki sirkulasi udara yang baik.
  • Terus memantau suhu tubuh dan saturasi oksigen, dan jika gejala semakin memburuk segera ke rumah sakit rujukan COVID-19 atau puskesmas.

Kini Anda sudah tau idealnya isolasi mandiri berapa hari. Jika Anda mengalami gejala, segera datangi rumah sakit atau puskesmas untuk melakukan test PCR dan segera laporkan pada RT setempat jika hasilnya positif.

Kenapa Harga Test PCR dan Swab Berbeda?

Seiring pandemi yang tak kunjung berakhir, metode diagnosis Covid-19 justru mengalami perkembangan pesat. Awalnya menggunakan tes antibodi yang memang banyak mengecoh, hingga munculnya tes PCR atau tes swab. Karena sudah diakui WHO dan dunia, harga test PCR ini juga menjadi salah satu pihak yang terdampak positif.

Rapid tes antigen telah disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk digunakan secara darurat di negara-negara yang jumlah penggunaan tes PCR-nya rendah. Hal itu dikarenakan harga yang dibanderol untuk melakukan tes tersebut terbilang cukup mahal dan menguras dompet, sehingga pilihan pun jatuh kepada swab antigen.

Harga Tes PCR

Rapid test antigen dan swab test antigen merupakan metode yang sama, dengan membuat seseorang sekresi lendir dari hidung dan tenggorokan. Dirancang untuk mendeteksi protein tertenu dari virus yang memunculkan respons kekebalan tubuh. Dengan begitu virus akan mudah terdeteksi di dalam tubuh, khususnya ketika sedang aktif menggandakan diri.

Sementara test PCR merupakan tes molekuler yang bertujuan untuk mendeteksi materi genetik virus dari dalam tubuh dengan cara mengambil sampel dari hidung. Tes ini memiliki tingkat akurasi paling tinggi, hal inilah yang menjadi alasan mengapa harga yang harus dibayar untuk tes ini cukup mahal dibanding tes lain.

Wakil Direktur Pendidikan dan Diklit sekaligus Jubir Satgas Covid-19 RS UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto menegaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu swab PCR lebih mahal harganya ketimbang rapid test. PCR begitu mahal karena melalui dua tahapan pemeriksaan yakni ekstraksi dan PCR itu sendiri.

Hal senada juga disampaikan oleh ahli mikrobiologi Universitas Indonesia, Pratiwi Puji Leastari, di mana ia menyebut jika tes cepat molekuler (PCR) dua-duanya menggunakan peralatan dengan nama RT-PCR. Alat ini membutuhkan dua reagensia, yakni untuk ekstraksi RNA dan untuk PCR itu sendiri.

Selain karena peralatan, proses PCR dalam menentukan status seseorang terinfeksi virus corona juga panjang. Petugas medis sedikit terhalang dengan APD ketika mengambil tes, menggunakan lab standar kualitas BSL-2 dan sistem pembuangan limbah atau khusus.Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut jika tes antigen memerlukan waktu 15-30 menit untuk menunggu hasil yang keluar.

Perlu Hari-hati

Pemerintah Indonesia diminta lebih agresif menyediakan tempat swab antigen yang bisa digunakan secara darurat. Di samping saat ini negara tengah berjuang agar WHO mempertimbangkan Indonesia sebagai salah satu negara penerima tes cepat antigen dengan harga murah tentunya, meski begitu hingga kini belum diketahui ada berapa banyak alat tes antigen yang dibeli pemerintah.

Meski begitu pemerintah Indonesia juga diharapkan terlebih dahulu melakukan verifikasi dari efektivitas antigen yang direkomendasikan oleh WHO. Pemerintah juga diharapkan tidak membiarkan warganya ramai-ramai membeli alat tes tersebut secara mandiri. Hal ini berkaca pada banyaknya tes rapid antibodi yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.

Meskipun harga tes PCR terus melambung, efektivitas metode ini masih akan tetap menjadi primadona banyak orang. Terlepas dari kelebihan dan kelemahan masing-masing tes yang digunakan untuk mendeteksi virus corona. Selebihnya menjaga protokol kesehatan harus lebih diutamakan ketimbang mengandalkan hasil deteksi.

Pola hidup dan aktivitas keseharian bisa menjadi pemicu seseorang terinfeksi Covid-19, disamping itu banyak masyarakat yang masih suka menggerombol tanpa memperhatikan jarak aman di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda di Indonesia.