Seputar Waist Trainer Korset Pelangsing

Waist trainer adalah sejenis korset pelangsing yang bertujuan untuk memperkecil pinggul dan membantu orang-orang mendapatkan bentuk tubuh layaknya gelas pasir. Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan korset pelangsing ini, penting untuk memahami bahwa produk ini belum tentu aman dan efektif dalam membantu Anda mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. 

Korset pelangsing dapat membantu memiliki perut yang ramping

Waist trainer adalah garmen dengan bentuk yang menyerupai korset pelangsing. Sama seperti korset pelangsing, waist trainer akan menarik bagian tengah tubuh seseorang sekencang mungkin. Waist trainer umumnya terbuat dari kombinasi antara kain yang kuat dan serat yang keras. Velcro, kait, dan tali atau pengencang yang kuat lainnya akan menjaga agar wais trainer tetap kencang dan berada pada tempatnya. Mereka yang mendukung penggunaan “alat pelangsing” menyatakan bahwa sangat mungkin untuk “melatih” pinggang untuk memiliki bentuk yang lebih ramping dan langsing setelah sering memakai korset pelangsing dalam waktu yang lama. Bahkan, beberapa orang menyatakan memakai waist trainer korset pelangsing saat berolahraga dapat membantu menurunkan berat badan. 

Apakah alat ini efektif berfungsi?

Waist trainer bekerja dengan cara yang sama dengan korset pelangsing, yang mana sekarang sudah jarang digunakan karena tidak nyaman, ketinggalan jaman, dan menyebabkan kekhawatiran kesehatan. Waist trainer dapat menghasilkan pengurangan ukuran pinggang atau lingkar pinggang sementara, dan seseorang akan melihat hasilnya dengan cepat. Namun, setelah waist trainer atau korset pelangsing dilepaskan, pinggang akan kembali ke bentuk semula dan tidak lagi terlihat lebih kecil. Selain itu, waist trainer tidak mengurangi lemak tubuh seseorang. Jika Anda berupaya untuk mengurangi jumlah lemak di perut atau menurunkan berat badan secara keseluruhan, Anda tidak bisa mengandalkan korset pelangsing dan waist trainer sebagai solusinya. Namun, seseorang dapat kehilangan nafsu makan saat menggunakan waist trainer. Ini dikarenakan garmen ini akan memberikan tekanan pada lambung, yang mana dapat memberikan perasaan kenyang yang palsu. 

Selain hanya memberikan tampilan jam pasir sementara, ada risiko yang dibawa oleh waist trainer korset pelangsing. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan tubuh seseorang. Waist trainer dapat berpotensi membahayakan seseorang apabila membuat pengguna kesulitan bernapas, memaksa organ-organ tubuh bagian dalam pada posisi yang sempit yang dapat menyebabkan kerusakan permanen seiring berjalannya waktu, patang tulang rusuk, dan menyebabkan refluks asam dan gangguan pencernaan lainnya. 

Sebuah laporan tahun 2018 menyatakan bahwa menggunakan waist trainer seperti korset pelangsing pada saat Anda berolahraga dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Para peserta menunjukkan adanya sesak napas, berkeringat, dan meningkatnya rasa nyeri saat mereka memakai waist trainer korset pelangsing saat melakukan manuver pernapasan untuk menstimulasi latihan. Menurut ABCS, memakai waist trainer dapat mengurangi kapasitas paru-paru sebesar 30 hingga 60 persen. Waist trainer korset pelangsing juga dapat menyebabkan penumpukan cairan dan peradangan pada paru-paru. 

Menekan bagian perut menggunakan tekanan yang konstan dari waist trainer korset pelangsing juga dapat menyebabkan organ tubuh bagian dalam seperti hati dan ginjal untuk berpindah ke posisi yang tidak tepat dan alami. Pergerakan organ tubuh bagian dalam tersebut dapat memengaruhi aliran darah, dan juga mengubah seberapa baik organ-organ tubuh tersebut berfungsi. Bahkan, hal ini dapat menyebabkan kerusakan organ permanen. Pergerakan organ karena korset pelangsing juga dapat memengaruhi organ pencernaan, seperti kerongkongan, lambung, dan usus. Tidak hanya mengganggu pencernaan, tekanan yang konstan dapat memaksa asam lambung untuk naik ke kerongkongan dan menyebabkan maag. Jika seseorang menderita GERD, memakai korset pelangsing dapat memperparah gejala kondisi yang diderita.

Amankah Penggunaan Baby Walker untuk Anak? Ini Penjelasan IDAI

Saat anak sudah mulai masuk fase belajar berjalan, tak sedikit orang tua yang masih menggunakan baby walker dengan tujuan merangsang motorik anak agar bisa cepat berjalan.

Namun, berdasarkan beberapa penelitian baru-baru ini, ternyata penggunaan baby walker tidak disarankan, loh! Bahkan, penggunaannya bisa membahayakan anak. 

Dilaporkan apabila sebanyak 64-85% terjadi kecelakaan pada bayi akibat penggunaan baby walker. Laporan dari American Academy of Pediatrics tahun 1999 juga menyebutkan apabila sebanyak 8800 bayi dilarikan ke Unit Gawat Darurat karena terjatuh setelah menggunakan baby walker

Agar tidak salah pilih dan mengetahui apa yang cocok untuk merangsang bayi cepat berjalan, begini penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Risiko penggunaan baby walker

Tak sedikit orang tua zaman now yang menganggap bahwa baby walker bisa membantu menstimulasi otot kaki bayi, sehingga bayi bisa berjalan lebih cepat. 

Kenyataannya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan  American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaannya sebagai alat bantu jalan bayi.

Hal ini disebabkan tingginya risiko kecelakaan yang bisa terjadi. Dalam beberapa kasus, kecelakaan akibat penggunaannya, seperti bayi terjatuh hingga mengalami patah tulang bahkan bisa menyebabkan kematian apabila cedera yang dialami cukup parah. 

Si Kecil bisa saja mengalami luka di kepala atau di otak dan luka bakar, terlebih jika orang tua lalai dalam memperhatikan Si Kecil. 

Selain itu, saat anak berada dalam baby walker, posisinya pun akan lebih tinggi. Hal ini bisa  membuat anak lebih mudah bergerak dan menjangkau benda-benda asing atau berbahaya yang ada di depannya, contohnya seperti pisau atau barang pecah belah.

Berikut ini beberapa risiko yang bisa menimpa Si Kecil apabila menggunakan baby walker. 

  • Luka pada bagian kepala dan otak karena terjatuh dari tangga
  • Patah tulang karena terjungkal pada permukaan lantai yang tidak rata
  • Mengalami luka bakar karena Si Kecil bisa menjangkau benda berbahaya seperti setrika atau gelas yang berisi air panas
  • Tenggelam, karena Si Kecil bisa bergerak cepat bahkan masuk ke kolam renang
  • Keracunan, apabila Si Kecil tidak sengaja menelan obat nyamuk atau lotion yang tergeletak di atas meja

Baby walker tak bisa bikin Si Kecil cepat berjalan

Melalui laman resmi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), menyebutkan apabila penggunaan alat bantu berjalan untuk si kecil tersebut tidak bisa membantu bayi berjalan lebih cepat. Malah sebaliknya, alat bantu berjalan ini membuat anak jadi malas untuk belajar berjalan karena terus berada di zona nyaman. 

Selain itu, penggunaannya juga bisa menguatkan otot yang salah pada anak. Kedua tungkai bawah bayi jadi lebih kuat, tapi tungkai atas (paha), dan pinggul tetap tidak terlatih. Padahal paha dan pinggul juga ikut berperan saat anak belajar berjalan. 

Penggunaan perlengkapan bayi ini juga membuat anak tidak bisa melihat kakinya sehingga mempengaruhi anak saat melatih keseimbangan tubuh. 

Lalu bisakah Si Kecil berjalan dengan cepat tanpa bantuan baby walker? Jawabannya tentu bisa dong. Tanpa bantuan alat, Si Kecil bahkan bisa berjalan lebih cepat. 

Berikut ini beberapa keuntungan yang didapat jika Si Kecil belajar berjalan tanpa bantuan baby walker. 

  • Bayi dengan mudah mampu belajar untuk duduk-bergerak dan duduk-merangkak
  • Bayi mampu berdiri dengan mudah dari posisi berlutut
  • Bayi mampu bergerak bebas di sekitar rumah dengan aman, tanpa khawatir akan terjungkal 
  • Bayi mampu belajar keseimbangan dari jatuh dan kembali berdiri
  • Bayi mampu melihat kakinya saat berjalan belajar, hal ini rupanya cukup penting sebagai proses belajar berjalan
  • Kekuatan otot kaki bayi terlatih karena sering berjalan merambat pada kursi, meja, atau lemari
  • Bayi juga bisa belajar keseimbangan dengan cepat saat terjatuh dan berdiri kembali. 

Dibandingkan menggunakan baby walker, Bermain di lantai justru lebih aman karena bisa meminimalisir bayi terjatuh karena terjungkal.  

Itu dia beberapa bahayanya penggunaan baby walker untuk Si Kecil. Sebagai alternatif, kamu bisa loh menggunakan alat bantu yang lebih aman seperti stationary activity center, yakni mainan dengan dudukan yang bisa berputar. Mainan tersebut cukup aman karena tidak bergerak. 

Kenapa Harga Test PCR dan Swab Berbeda?

Seiring pandemi yang tak kunjung berakhir, metode diagnosis Covid-19 justru mengalami perkembangan pesat. Awalnya menggunakan tes antibodi yang memang banyak mengecoh, hingga munculnya tes PCR atau tes swab. Karena sudah diakui WHO dan dunia, harga test PCR ini juga menjadi salah satu pihak yang terdampak positif.

Rapid tes antigen telah disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk digunakan secara darurat di negara-negara yang jumlah penggunaan tes PCR-nya rendah. Hal itu dikarenakan harga yang dibanderol untuk melakukan tes tersebut terbilang cukup mahal dan menguras dompet, sehingga pilihan pun jatuh kepada swab antigen.

Harga Tes PCR

Rapid test antigen dan swab test antigen merupakan metode yang sama, dengan membuat seseorang sekresi lendir dari hidung dan tenggorokan. Dirancang untuk mendeteksi protein tertenu dari virus yang memunculkan respons kekebalan tubuh. Dengan begitu virus akan mudah terdeteksi di dalam tubuh, khususnya ketika sedang aktif menggandakan diri.

Sementara test PCR merupakan tes molekuler yang bertujuan untuk mendeteksi materi genetik virus dari dalam tubuh dengan cara mengambil sampel dari hidung. Tes ini memiliki tingkat akurasi paling tinggi, hal inilah yang menjadi alasan mengapa harga yang harus dibayar untuk tes ini cukup mahal dibanding tes lain.

Wakil Direktur Pendidikan dan Diklit sekaligus Jubir Satgas Covid-19 RS UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto menegaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu swab PCR lebih mahal harganya ketimbang rapid test. PCR begitu mahal karena melalui dua tahapan pemeriksaan yakni ekstraksi dan PCR itu sendiri.

Hal senada juga disampaikan oleh ahli mikrobiologi Universitas Indonesia, Pratiwi Puji Leastari, di mana ia menyebut jika tes cepat molekuler (PCR) dua-duanya menggunakan peralatan dengan nama RT-PCR. Alat ini membutuhkan dua reagensia, yakni untuk ekstraksi RNA dan untuk PCR itu sendiri.

Selain karena peralatan, proses PCR dalam menentukan status seseorang terinfeksi virus corona juga panjang. Petugas medis sedikit terhalang dengan APD ketika mengambil tes, menggunakan lab standar kualitas BSL-2 dan sistem pembuangan limbah atau khusus.Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut jika tes antigen memerlukan waktu 15-30 menit untuk menunggu hasil yang keluar.

Perlu Hari-hati

Pemerintah Indonesia diminta lebih agresif menyediakan tempat swab antigen yang bisa digunakan secara darurat. Di samping saat ini negara tengah berjuang agar WHO mempertimbangkan Indonesia sebagai salah satu negara penerima tes cepat antigen dengan harga murah tentunya, meski begitu hingga kini belum diketahui ada berapa banyak alat tes antigen yang dibeli pemerintah.

Meski begitu pemerintah Indonesia juga diharapkan terlebih dahulu melakukan verifikasi dari efektivitas antigen yang direkomendasikan oleh WHO. Pemerintah juga diharapkan tidak membiarkan warganya ramai-ramai membeli alat tes tersebut secara mandiri. Hal ini berkaca pada banyaknya tes rapid antibodi yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.

Meskipun harga tes PCR terus melambung, efektivitas metode ini masih akan tetap menjadi primadona banyak orang. Terlepas dari kelebihan dan kelemahan masing-masing tes yang digunakan untuk mendeteksi virus corona. Selebihnya menjaga protokol kesehatan harus lebih diutamakan ketimbang mengandalkan hasil deteksi.

Pola hidup dan aktivitas keseharian bisa menjadi pemicu seseorang terinfeksi Covid-19, disamping itu banyak masyarakat yang masih suka menggerombol tanpa memperhatikan jarak aman di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda di Indonesia.

Dosis dan Cara Pemberian Ferlin Sirup kepada Anak-Anak

Ferlin sirup merupakan suplemen multivitamin bersertifikat halal yang mengandung zat besi, asam folat, vitamin B1, vitamin B6, dan vitamin B12. Ferlin sirup sering diresepkan dokter untuk memenuhi kebutuhan zat besi dan vitamin B pada proses pertumbuhan si kecil. 

Zat besi adalah nutrisi penting yang terlibat dalam beberapa aspek kesehatan, seperti memproduksi hemoglobin untuk membentuk sel darah merah, dan mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh. Tanpa zat besi yang cukup, perkembangan otot, jaringan, dan sel akan terhambat.

Manfaat zat besi dalam tubuh

Fungsi utama zat besi adalah membentuk hemoglobin, protein sel darah merah yang bertujuan untuk mengangkut oksigen dalam darah dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Peran penting lain dari zat besi meliputi:

  1. Mencegah dan mengobati anemia

Ketika tubuh kekurangan hemoglobin akan menyebabkan anemia defisiensi zat besi. Anemia jenis ini termasuk salah satu kekurangan nutrisi paling umum di dunia. Gejala anemia meliputi kelelahan, pusing, sesak napas, dan lemah. 

  1. Mengurangi kelelahan

Zat besi dapat berfungsi sebagai sumber energi dan membantu mengatasi kelelahan, bahkan pada orang yang tidak menderita anemia. Anak-anak membutuhkan pasokan energi agar bisa bermain dan beraktivitas untuk mendukung eksplorasi dunianya.

  1. Meningkatkan kekebalan tubuh

Zat besi berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan. Zat besi dapat melindungi si kecil dari mikroorganisme penyebab penyakit sehingga ia bisa terus bermain dengan ceria.

  1. Meningkatkan konsentrasi

Penelitian menunjukkan bahwa kekurangan zat besi dapat menurunkan konsentrasi. Menjaga kadar zat besi dalam batas normal akan mendukung pembelajaran sang buah hati.

Banyak anak mengalami defisiensi zat besi

Ketika lahir, bayi memiliki simpanan zat besi di dalam tubuhnya. Seiring bertambahnya usia dibutuhkan asupan zat besi tambahan untuk mendukung proses tumbuh kembang si kecil. 

Bayi berusia 7-12 bulan membutuhkan 11 mg zat besi per hari, sementara anak berusia 1-3 tahun 7 mg/hari. Anak di atas 4 tahun membutuhkan 10 mg zat besi per hari, dan 9-13 tahun 8 mg/hari. 

Sayangnya ada banyak anak yang tidak memenuhi angka rekomendasi tersebut. Biasanya mereka memiliki kondisi antara lain:

  • Bayi lahir prematur atau berat lahir rendah
  • Bayi yang meminum susu sapi atau kambing sebelum usia 1 tahun
  • Bayi tidak menerima makanan pendamping yang mengandung zat besi setelah usia 6 bulan
  • Bayi yang minum susu formula non-fortifikasi zat besi
  • Anak usia 1-5 tahun yang minum lebih dari 710 ml susu sapi, susu kambing, atau susu kedelai sehari
  • Anak memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti infeksi kronis atau pola makan yang dibatasi
  • Anak terpapar timah hitam
  • Anak dengan gizi buruk
  • Anak kelebihan berat badan atau obesitas

Bagi anak-anak dengan kondisi di atas, disamping mengubah pola makan lebih kaya zat besi, Anda juga bisa memberikan Ferlin sirup setiap hari. 

Dosis dan cara penggunaan

Ferlin sirup dapat dibeli dengan bebas di apotek dan baik digunakan untuk anak berusia 2 tahun. Konsumsi suplemen cair ini sebelum makan. 

Adapun dosis penggunaannya yaitu:

  • Anak usia 2 hingga 6 tahun: ½ sendok takar per hari
  • Anak usia 7 hingga 12 tahun: 1 sendok takar per hari
  • Anak diatas 12 tahun: 2 sendok takar per hari

Ferlin sirup mengandung zat besi, asam folat, dan vitamin B yang berfungsi memenuhi kebutuhan zat besi dan vitamin B harian si kecil. Konsultasikan penggunaan jika anak Anda memiliki kondisi khusus, terutama sedang dalam perawatan obat atau terapi.